Pembersihan dan disinfeksi peralatan pernapasan/ventilasi mekanik (WHO Guidelines)
Peralatan yang digunakan untuk terapi pernafasan (misalnya
item yang bersentuhan dengan membran mukosa) dianggap semicritical1;
barang-barang tersebut harus dibersihkan dan kemudian menerima di desinfeksi
tingkat tinggi setidaknya antara pasien (225). Disinfeksi tingkat tinggi
peralatan pernapasan terjadi setelah pembersihan, dan biasanya dilakukan dengan
germisida kimia atau metode fisik, seperti diuraikan di bawah (253).
Kimia germicides
germicides kimia yang digunakan untuk disinfeksi tingkat
tinggi meliputi (225): • formulasi berbasis glutaraldehida (2%); • stabil
hidrogen peroksida (6%); • asam perasetat (konsentrasi variabel, tetapi ≤ 1%
adalah sporicidal); • natrium hipoklorit (5,25%, diencerkan dengan 1000 ppm
klorin tersedia - 01:50 pengenceran).
Yang paling bahan pembasmi kuman kimia sesuai untuk situasi
tertentu harus dipilih atas dasar objek yang akan didesinfeksi, komposisi dan
tujuan penggunaan; tingkat desinfeksi diperlukan; dan ruang lingkup layanan,
fasilitas fisik, sumber daya dan tenaga yang tersedia.
metode fisik
metode fisik untuk disinfeksi tingkat tinggi meliputi
disinfeksi air panas (pasteurisasi) atau uap (misalnya autoklaf pada suhu yang
lebih rendah). Pasteurisasi adalah non-beracun, biaya alternatif yang efektif
untuk desinfeksi tingkat tinggi dengan germisida kimia. Peralatan harus
direndam selama minimal 30 menit dalam air pada suhu sekitar 70 ° C (kurang
dari suhu yang biasanya merusak plastik). Pasteurisasi dapat dilakukan dengan
menggunakan mesin cuci komersial atau pasteurisasi (254). Setelah pasteurisasi,
peralatan yang basah biasanya dikeringkan dalam lemari pengeringan udara panas
sebelum disimpan. Sterilisasi uap adalah metode murah dan efektif untuk
sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi. Uap sterilisasi, bagaimanapun,
tidak cocok untuk pengolahan plastik dengan titik leleh rendah, bubuk atau
minyak anhidrat. spora bakteri dapat bertahan hidup setelah disinfeksi tingkat
tinggi. Mikrobiologi pengambilan sampel dapat memverifikasi bahwa disinfeksi
tingkat tinggi telah mengakibatkan kehancuran bakteri vegetatif; Namun,
pengambilan sampel tersebut tidak secara rutin dianjurkan.
I.1 Langkah-langkah untuk pembersihan dan disinfeksi bagian
plastik peralatan pernapasan
APD diperlukan saat membersihkan atau peralatan dan
instrumen pengolahan, untuk melindungi terhadap percikan, penyemprotan atau
aerosol.
1. Cuci peralatan dengan sabun (misalnya, sabun cuci cair)
dan air bersih. 2. Bilas peralatan sepenuhnya dengan air bersih. 3. Hama
peralatan untuk melumpuhkan patogen yang tersisa.
1 Menurut klasifikasi Spaulding ini (224), item semicritical
adalah perangkat yang bersentuhan dengan selaput lendir atau kulit tidak utuh
Pembersihan dan disinfeksi peralatan pernapasan
72 Pencegahan dan pengendalian infeksi pernapasan Epidemi
dan Pandemi akut
Ada beberapa cara untuk peralatan disinfeksi, dan produk
yang tersedia di fasilitas perawatan kesehatan harus digunakan. metode
disinfeksi yang aman meliputi: • panas untuk peralatan tahan panas yang dapat
menahan suhu tinggi (misalnya 80 ° C); peralatan tersebut dapat didesinfeksi
menggunakan mesin cuci-disinfector; • jika mesin cuci atau pasteurisasi tidak
tersedia, gunakan high-end atau mesin cuci piring komersial dengan fitur “sanitasi”
yang dapat mencapai 70 ° C; • untuk peralatan plastik yang tidak tahan panas 80
° C dan untuk peralatan yang mungkin akan rusak oleh mendidih, atau dengan
tidak adanya peralatan yang dijelaskan di atas, menggunakan desinfeksi kimia
(misalnya berendam dalam larutan 1: 100 sodium hipoklorit selama 30 menit,
seperti yang dijelaskan dalam Lampiran G).
4. Jika menggunakan desinfeksi kimia, bilas dengan air
steril atau bersih (yaitu air direbus selama 5 menit dan didinginkan). Air
steril lebih disukai untuk membilas disinfektan kimia cair sisa dari perangkat
pernapasan yang telah kimiawi didesinfeksi untuk digunakan kembali, karena
keran atau air suling bisa mengandung mikroorganisme yang dapat menyebabkan
pneumonia. Namun, ketika membilas dengan air steril tidak layak, sebaliknya,
bilas dengan air keran atau air disaring (yaitu air melewati 0,2 μ filter),
diikuti oleh bilas alkohol dan pengeringan dipaksa-udara.
5. peralatan kering.
• peralatan fisik (misalnya mesin cuci, pasteurisasi atau
autoclave) sering memiliki fitur pengeringan dalam mesin. • Untuk metode kimia,
biarkan bagian peralatan udara kering pada handuk bersih atau kain.
6. Simpan peralatan kering dalam paket tertutup.
Ringkasan: Cuci dengan sabun dan air bersih, bilas,
disinfeksi, bilas (jika metode kimia), kering dan toko.
Pembersihan dan disinfeksi ventilator mekanik
Untuk bersih dan disinfeksi ventilator mekanis, menghapus
bawah kontrol dan seluruh bagian luar peralatan dengan desinfektan yang
kompatibel (solusi misalnya natrium hipoklorit 0,05% atau 500 ppm untuk
permukaan non-logam).
Hama tubing menggunakan larutan natrium hipoklorit 0,1% atau
1000 ppm, memastikan bahwa seluruh lumen pipa tersebut dibilas (Bagian I.1, di
atas).
Hal ini tidak perlu untuk secara rutin bersih garis
pernapasan dan tekanan di dalam ventilator antara pasien, karena garis tidak
terkena pasien atau sekret pernapasan pasien.
Biasanya, seluruh ekspirasi sisi tabung dilepas (akhir
ekspirasi memiliki katup untuk mengontrol keluarnya gas dari sirkuit dan juga
mungkin memiliki perangkat pengukuran aliran atau perangkap air, atau
keduanya). Tubing ini harus dibongkar dan dibersihkan pertama dengan deterjen,
dibilas bersih, dan kemudian dikenakan baik disinfeksi tingkat tinggi atau
sterilisasi. Disinfeksi tingkat tinggi adalah minimum yang diperlukan prosedur
untuk item ini, namun karena kepraktisan beberapa metode sterilisasi dan
protokol fasilitas kesehatan (misalnya uap), barang-barang tersebut dapat, jika
dirancang sesuai, diserahkan kepada sterilisasi.
Pembersihan dan disinfeksi peralatan pernapasan
pencegahan dan pengendalian akut infeksi pernafasan menjadi
Epidemi dan Pandemi 73 Infeksi
Ketika ventilator mekanik yang digunakan dalam perawatan
pasien dengan ISPA menimbulkan kekhawatiran, filter bakteri dan virus yang direkomendasikan
pada katup pernafasan.
Tulisan berikut ini adalah sebagian opini yang dipikirkan manusia, ini tentang tentang sebuah perkembangan Teknologi, seeiring berkembangnya jaman satu generasi terakhir ini merupakan awal dunia baru dengan berkembangnya teknologi yang semakin cepat mulai dari diciptakan sebuah komputer sampai dengan diciptakannya sosok mesin yang hampir mirip dengan manusia,
Jika di pikir lebih dalam lagi sekarang manusia sangat bergantung dengan teknologi, bahkan interaksi sesama manusia di gantikan dengan teknologi, hal ini tak perlu saya jelaskan panjang lebar mungkin anda atau saya lah yang menjadi korbannya,,:) Lol
Saya akan menjelaskan lebih kerucut lagi sekarang hal kesehatan saja orang lebih banyak berinteraksi ke internet dari pada ke dokter, menemukan sebuah kejahatan lebih akurat dengan teknologi informasi dibanding menunggu lama penyelidikan polisi,begitupun dengan profesi lainnya ,arsitek,guru,tentara,pilot sudah mulai di ambil alih oleh teknologi, jadi pertanyaan selanjutnya adalah siapakah pemegang kendali teknologi jawabannya adalah "ENGINEERING" SEORANG TEKNISI
Masa depan seorang engginer adalah masa depan dunia mungkin sepuluh tahun akan datang orang-orang takkan mencari lagi siapa itu dokter,polisi,arsitek,politik yang di cari adalah seorang pawang yaitu "engineer"
tulisan ini saya buat untuk para engineer dimanapun berada bahwa kita sangat di tuntut untuk maju dan berkembang, pekerjaan kita tak akan mati selama dunia ini berputar, maka dari itu marilah berfikir kreatif,inovatif, berpikirlah tentang sesuatu yang baru, di luar sana seorang teknisi tengah bergelut di meja kerjanya, apakah itu menciptakan organ manusia tiruan,apakah itu menciptakan sebuah senjata mematikan entahlahh, berfikirlah bahwa semua itu mudah bagaikan logika 0 dan 1.
Teknik elektromedik adalah teknik klinik (Clinical Engineering) yang
merupakan kekhususan dari cakupan rumpun (body of knowledge) teknik
biomedika. Teknik Biomedika (Biomedical Engineering) merupakan bidang
multidisplin, yang menerapkan berbagai metoda engineering, science &
technology guna dimanfaatkan dalam peningkatan pelayanan kesehatan
masyarakat (Teknik Biomedika ITB)
Batasan Teknik Elektromedik (Clinical Engineering) adalah suatu
disiplin ilmu teknik yang menerapkan konsep, pengetahuan, dan seluruh
disiplin teknik untuk menyelesaikan masalah dalam bidang biologi dan
medis untuk perancangan dan pengembangan fasilitas sistem alat dalam
mendukung prosedur diagnosa klinis. Pelayanan teknik elektromedik
(Clinical Engineering) adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan
untuk memecahkan masalah dalam bidang biologi dan medis untuk
perancangan dan pengembangan fasilitas sistem alat kesehatan dalam
mendukung prosedur diagnosa klinis.
Ruang Lingkup Profesi Teknisi Elektromedik
Tanggung
jawab Teknisi Elektromedik secara umum adalah menjamin terselenggaranya
pelayanan kesehatan khususnya kelayakan siap pakai peralatan kesehatan
dengan tingkat keakurasian dan keamanan serta mutu yang standar. Tanggung
jawab dan tugas tersebut meliputi semua sarana pelayanan kesehatan
mulai dari Puskesmas sampai dengan Rumah Sakit yang menyelenggarakan
pelayanannya menggunakan fasilitas peralatan dari yang teknologi
sederhana sampai teknologi tinggi, dengan peranan dan fungsi teknisi
elektromedis secara umum yang dapat diuraikan mulai dari pengelola,
pelaksana, penelitian serta penyuluh dan pelatih terhadap alat
kedokteran/kesehatan pada fasilitas kesehatan sebagai berikut :
1. Melaksanakan operasi alat kedokteran/kesehatan (Teknisi Aplikasi) 2. Melaksanakan pemeliharaan alat kedokteran/kesehatan 3. Melaksanakan repair & troubleshooting alat kedokteran/kesehatan 4. Melaksanakan inspeksi untuk kerja alat kedokteran /kesehatan 5. Melaksanakan inspeksi keamanan alat kedokteran/kesehatan 6. Melaksanakan uji laik pakai alat kedokteran/kesehatan 7. Melaksanakan kalibrasi alat kedokteran/ kesehatan 8. Melaksanakan registrasi dan penapisan alat kedokteran/kesehatan yang diimpor dari luar negeri 9. Melaksanakan uji produksi dalam negeri alat kedokteran /kesehatan 10. Melaksanakan fabrikasi alat kedokteran/kesehatan 11. Melaksanakan penyuluhan/pengajaran/penelitian alat kedokteran/kesehatan 12. Melaksanakan sales engineering alat kedokteran/kesehatan 13. Melaksanakan perakitan instalasi alat kedokteran/kesehatan 14. Melaksanakan perancangan teknologi tepat guna alat kedokteran/kesehatan
*) Standar Profesi Teknisi Elektromedik, Keputusan Menteri Kesehatan No. 371/MENKES/SK/III/2007
Dengan catatan seorang profesi elektromedik adalah juga anggota dari
IKATEMI (Ikatan Ahli Teknik Elektromedik Indonesia) yang juga sudah
mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi) jika tidak maka dinyatakan
ilegal.
Bisa dibayangkan beban pekerjaan dan tanggung jawab elektromedik dari
segi hukum, birokrasi perijinan & keuangan, pelayanan lapangan dan
kesehatan.
Bagi teknisi pemeliharaan dan perbaikan tinggal dikalikan saja dengan
jumlah alat yang dicover pada suatu wilayah atau rumah sakit atau tempat
pelayanan kesehatan. Hitung saja misalnya ada 10 alat medis dikali 10
instalasi kesehatan pada satu (1) tempat. Itu baru 1 jenis alat dan 1
tempat, bisa dibayangkan berapa banyak jumlah jenis alat kesehatan dan
berapa cover area pemeliharaan & perbaikan yang dilayani.
Fyuhhh ....
Oleh karena itu pada suatu pekerjaan profesi teknisi elektromedik dibagi menjadi beberapa kategori :
Teknisi Aplikasi
Teknisi Pemeliharaan
Teknisi Perbaikan
Teknisi Kalibrasi Laik Pakai
Teknisi Installasi dan Perancangan
Tentu juga harus didukung oleh manajemen administrasi teknik dan
birokrasi yang berkesinambungan serta manajemen kontrolling secara
menyeluruh. Berlaku pada teknisi vendor swasta principal dan teknisi
IPSRS Alat Kesehatan.
Sering dipertanyakan bila suatu Badan Layanan Kesehatan seperti Rumah
Sakit dan Puskesmas yang mempunyai peralatan kesehatan yang mahal tidak
mempunyai teknisi elektromedik, sehingga tidak terkontrolnya
pemeliharaan alat yang ada. Tetapi lulus sertifikasi ISO dan Akreditasi
Layanan Kesehatan, hal tersebut menjadi tanda tanya besar.
Ataupun di lain hal untuk pemeliharaan alat kesehatan tetapi dari bukan
profesi elektromedik atau faknya, seringkali pekerjaan pemeliharaan
sarana dan prasarana instalasi layanan kesehatan baik itu gedung
bangunan,listrik, air atau jaringan telepon dicampuradukkan dengan
pemeliharaan alat kesehatan.
Sering ditemui juga banyak alat kesehatan yang tidak ada pemeliharaan
dan kalibrasi laik pakai tetapi tetap digunakan untuk layanan kesehatan
kepada masyarakat.
Hal tersebut tentunya akan berakibat output yang kurang baik, bagi
pelayanan kesehatan kepada masyarakat tentunya dan pasien sebagai
pengguna alat kesehatan khususnya. Oleh karena itu perlunya peran
kontrol dan evaluasi secara menyeluruh.
Di sisi lain profesi teknisi elektromedik masih sangat terbatas, ambil
contoh dalam suatu perusahaan vendor alat kesehatan yang mempunyai
cakupan wilayah kerja seluruh Indonesia hanya mempunyai 3 orang teknisi
elektromedik dengan pembagian 3 wilayah kerja, dimana satu wilayah kerja
mengambil tugas semua kategori di atas. Atau ambil contoh di suatu
rumah sakit atau puskesmas dengan jumlah keseluruhan alat kesehatan yang
dimiliki sejumlah 500 alat hanya memiliki 1 orang teknisi elektromedik.
Oleh karena itu diharapkan kiranya agar profesi teknik elektromedik bisa
lebih berkembang dan lebih maju, serta lebih dihargai. Dengan alat
medis yang siap dan laik pakai tentunya pelayanan prima pada pasien akan
terwujud dengan baik.
andiakbarmaulana.blogspot.com -
telah banyak di temui di media sosial maupun elektronik bagaimana maraknya pencarian kerja yang subyeknya para pencari kerja yang masih awam. khususnya di bagian Product Alat Kesehatan banyaknya perusahaan tender atau rekanan sub distributor yang melakukan muslihat dengan berpura-pura membuka lowongan pekerjaan padahal tidak membutuhkan pekerja, dengan alibi para pelamar kerja mengirim CV nya dan lampiran ijazah dan transkip nilai, dengan itu "si Perusahaan" mendapat fotocopy ijazah yang sangat penting untuk di gunakan dalam tender atau pengadaan alkes di sebuah instansi atau rumah sakit. kita ketahui bersama bahwa dalam penyelesaian sebuah tender itu harus memiliki teknisi yang bersetivikat dan memiliki ijazah, makanya dengan cara itu para perusahaan itu mendapat keuntungan dengan mengumpukan ijazah ELEKTROMEDIK tampa memberi imbalan atu mengontrak ijazah tersebut.(baron-@)
kegiatan PPS (program pengenalan study) di kampus teknik elektromedik muhammadiyah makassar merupakan program dimana mahasiswa baru di beri pembekalan bagaimana dalam menghadapi dunia kampus kedepannya, dan memberikan kiat tentang karakter dan sifat yang harus dihadapi dalam masa kuliah nantinya, pemateri juga berasal dari organisasi proesi IKATEMI dan para alumni IKA ATEM Muhammadiyah Makassar yang akan memberikan bayangan dan dan gambaran bagaimana teknisi elektromedik kedepannya di dunia kerja
Teknisi
Elektromedis/biomedika sebagai profesi kesehatan dituntut untuk
melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional, efektif dan
efisien. Klien secara penuh mempercayakan masalahnya untuk mendapatkan
pelayanan teknik elektromedik/biomedika yang bermutu dan bertanggung
jawab. Teknik elektromedik/biomedika sebagai profesi mempunyai wewenang
dan tanggung jawab untuk menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan ruang
lingkup kegiatannya.
Guna
meningkatkan kinerja profesi teknik elektromedik/biomedika salah
satunya diperlukan standar profesi sebagai pedoman dasar setiap teknisi
elektromedis dalam mengaktualisasikan diri dan sebagai hasil keluaran
(outcome) yang diharapkan profesinya.
Tanggung
jawab Teknisi Elektromedis secara umum adalah menjamin terselenggaranya
pelayanan kesehatan khususnya kelayakan siap pakai peralatan kesehatan
dengan tingkat keakurasian dan keamanan serta mutu yang standar.
Tanggung
jawab dan tugas tersebut meliputi semua sarana pelayanan kesehatan
mulai dari Puskesmas sampai dengan Rumah Sakit yang menyelenggarakan
pelayanannya menggunakan fasilitas peralatan dari yang teknologi
sederhana sampai teknologi tinggi, dengan peranan dan fungsi teknisi
elektromedis secara umum yang dapat diuraikan mulai dari pengelola,
pelaksana, penelitian serta penyuluh dan pelatih terhadap alat
kedokteran/kesehatan pada fasilitas kesehatan sebagai berikut:
1. Melaksanakan operasi alat kedokteran/kesehatan (Teknisi Aplikasi).
2. Melaksanakan pemeliharaan alat kedokteran/kesehatan.
3. Melaksanakan repair & trouble shooting alat kedokteran/kesehatan.
4. Melaksanakan inspeksi unjuk kerja alat kedokteran/kesehatan.
5. Melaksanakan inspeksi keamanan alat kedokteran/kesehatan.
6. Melaksanakan uji laik pakai alat kedokteran/kesehatan.
7. Melaksanakan kalibrasi alat kedokteran/kesehatan.
8. Melaksanakan registrasi dan penapisan alat kedokteran/kesehatan yang diimpor dari luar negeri.
9. Melaksanakan uji produksi dalam negeri alat kedokteran/kesehatan.
10. Melaksanakan fabrikasi alat kedokteran/kesehatan.
11. Melaksanakan penyuluhan/pengajaran/penelitian alat kedokteran/ kesehatan.
12. Melaksanakan sales engineering alat kedokteran/kesehatan.
13. Melaksanakan perakitan instalasi alat kedokteran/kesehatan.
14. Melaksanakan perancangan teknologi tepat guna alat kedokteran/ kesehatan
Pesawat sinar–X biasanya terdiri dari
komponen – komponen : generator, tegangan tinggi, panel control, tabung
sinar-X, alat pembatas berkas, dan peralatan penunjang/pendukung (missal cassette
holder, meja, dll). Pesawat sinar-X dikelompokan menjadi 3 (tiga) tipe :
1.Pesawat sinar-X mobile;
2.Pesawat sinar-X portable; dan
3.Pesawat sinar-X stationery.
Bagian–bagian tabung sinar-X
1.Anoda: mengubah energi electron menjadi
sinar-X; menghantarkan panas yang terjadi; dan biasanya terbuat dari tungsten
(Z = 74) atau alloy tungsten & rhenium.
2.Fokal spot : area tempat terjadinya
sinar-X; berdimensi antara 0,2mm s/d 2,0mm.
3.Katoda: sebagai sumber electron; berupa
kawat pijar atau filamen yang terbuat dari tungsten (wolfram).
4.Tabung gelas: menjaga kehampaan;
sebagai isolator antara Anoda dan Katoda; dan mempunyai umur tertentu.
5.Rumah/wadah Tabung: sebagai penahan
radiasi; biasanya terbuat dari Pb atau Uranium susut kadar; dan terdapat
pendingin.
Radiasi Nuklir; Detektor Radiasi;
Dosis Serap dan Satuan Radiasi
Awal perkenalan umat manusia dengan
radiasi pengion dimulai ketika Wilhelm C. Roentgen (1845 – 1923), fisikawan
berkebangsaan Jerman, pada tahun 1895 menemukan sejenis sinar aneh yang
selanjutnya diberi nama sinar-X.
Selang satu tahun dari penemuan sinar-X
tersebut, fisikawan Perancis Antonie Henry Becquerel menemukan unsur Uranium
(U) yang dapat memancarkan radiasi secara spontan. Untuk selanjutnya bahan yang
memiliki sifat seperti itu disebut bahan radioaktif.
Dua tahun kemudian, pasangan
suami-istri ahli kimia berkebangsaan Perancis Marie Curie dan Piere Curie
menemukan unsur Polonium (Po) dan Radium (Ra) yang memperlihatkan gejala yang
sama seperti Uranium.
Beberapa efek merugikan yang muncul
pada tubuh manusia karena terpapari sinar-X dan gamma dengan dosis berlebihan
segera teramati tidak lama setelah penemuan kedua jenis radiasi tersebut. Marie
Curie meninggal pada tahun 1934 akibat terserang oleh leukemia. Penyakit
tersebut besar kemungkinan akibat paparan radiasi karena seringnya beliau
berhubungan dengan bahan-bahan radioaktif. Meskipun demikian, upaya
perlindungan terhadap bahaya radiasi pada saat itu belum mendapatkan perhatian
yang serius.
Studi intensif efek radiasi terhadap
jaringan tubuh manusia terus dilakukan oleh para ahli biologi radiasi (radiobiologi),
hingga akhirnya secara pasti diketahui bahwa radiasi tersebut dapat menimbulkan
kerusakan somatik berupa kerusakan sel-sel jaringan tubuh dan kerusakan genetik
berupa mutasi sel-sel reproduksi. Dengan demikian manusiapun menyadari bahwa
radiasi dapat memberikan ancaman terhadap kesehatan manusia yang perlu
diwaspadai. Resiko kerusakan somatik dalam bentuk munculnya penyakit kanker
dialami langsung oleh orang yang sel somatiknya terkena penyinaran. Sedang
resiko dari kerusakan genetik tidak dialami oleh yang bersangkutan, melainkan
keturunan orang tersebut mempunyai peluang untuk menderita cacat genetis.
Studi epidemilogi efek biologi dari
radiasi pengion yang telah dilakukan melibatkan tidak kurang dari dua juta
orang dewasa dan anak-anak. Studi tersebut dilakukan terhadap mereka baik yang
menerima paparan radiasi dari alam di atas normal, para korban bom atom di
Hiroshima dan Nagasaki, para korban kecelakaan fasilitas nuklir (PLTN Chernobyl
misalnya) termasuk mereka yang masih di dalam kandungan sewaktu terjadi
kecelakaan, serta para pekerja radiasi dan penduduk di sekitar suatu instalasi
nuklir.
Hormesis Radiasi
Data epidemilogi mengenai efek
radiasi dosis rendah sebagai penyebab timbulnya kanker dan kerusakan genetik
masih minim. Di lain pihak beberapa pakar biologi radiasi dapat menunjukkan
bukti-bukti tentang adanya efek merangsang (stimulatif) akibat paparan radiasi
dosis rendah yang disebut hormesis. Fenomena hormesis ini sebenarnya sudah lama
dikenal dalam ilmu obat-obatan (farmakologi). Dalam hal ini hormesis mengandung
pengertian bahwa suatu zat yang dalam jumlah banyak bersifat racun tetapi dalam
jumlah sedikit bersifat sebagai perangsang kehidupan. Obat-obatan para
prinsipnya tersebut dari bahan-bahan kimia yang bersifat racun bagi tubuh,
namun dengan pengaturan dosis yang tepat, obat-obatan justru bermanfaat bagi
tubuh. Bertitik tolak dari pengertian ini maka hormesis radiasi mengandung
pengertian bahwa radiasi dosis rendah bersifat mampu memberikan efek yang
menguntungkan bagi kehidupan.
Hipotesa tentang adanya hormesis
radiasi muncul setelah dilakukan penelitian terhadap organisme ber-sel tunggal
hingga tumbuh-tumbuhan dan binatang bersel banyak seperti serangga, ikan dan
mamalia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan radiasi dosis
rendah memberikan efek perbaikan terhadap binatang maupun tumbuhan percobaan
dalam bentuk tingkat kesuburan, kesehatan, peningkatan umur rata-rata binatang
percobaan, kemampuan penyembuhan luka, kerentanan terhadap penyakit. Ketahanan
terhadap infeksi dan lain-lain.
Sementara data-data tentang adanya
hormesis pada binatang percobaan cukup banyak, hormesis radiasi terutama bagi
manusia hingga kini masih menjadi ajang perdebatan bagi para pakar biologi
radiasi. Hal ini disebabkan belum lengkapnya data yang mendukung kesimpulan ke
arah sana. Meskipun demikian, data-data epidemiologi yang telah terkumpul
hingga saat ini cukup menunjukkan bahwa hormesis dapat juga terjadi pada
manusia. Data epidemiologi tersebut berupa data dari korban bom atom di Hiroshima
dan Nagasaki dan penduduk yang tinggal pada daerah dengan radiasi latar alamiah
lebih tinggi dibandingkan dengan radiasi latar alamiah normal, seperti penduduk
di Propinsi Guangdong (RRC) dan Pantai Kerala (India).
Para korban bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki yang selamat hingga kini masih terus dipantau dan menjadi obyek
penelitian oleh para ahli. Dari data yang dikumpulkan selama 24 tahun sejak
tahun 1958 hingga 1982 menunjukkan bahwa sejumlah korban yang diperkirakan
menerima radiasi dengan dosis antara 0,12 – 0,36 Sievert justru tercatat
tingkat kematiannya akibat leukemia paling minim dibandingkan penduduk lain
yang tidak menerima paparan radiasi pada saat terjadi ledakan bom atom.
Dari Cina juga dilaporkan status
kesehatan lebih dari 20.000 penduduk di kota Yangjang, propinsi Guangdong. Dari
hasil pengukuran diketahui bahwa radiasi latar di daerah itu ternyata tiga kali
lebih tinggi dibandingkan radiasi latar daerah-daerah lainnya. Data mengenai
status kesehatan penduduk yang menempati daerah tersebut turun temurun
dikumpulkan dari tahun 1972 – 1975 dan dibandingkan dengan status kesehatan
penduduk daerah lain yang radiasi latar alamiahnya normal. Data yang diperoleh
menunjukkan bahwa frekwensi ditemukannya kanker ternyata lebih rendah pada penduduk
di daerah radiasi latar tinggi dibandingkan dengan penduduk di daerah dengan
radiasi latar rendah. Demikian halnya dengan data yang terkumpul dari Pantai
Kerala di India. Lebih dari 130.000 penduduk tinggal di daerah ini dengan
radiasi latar alamiah 3 hingga 10 kali di atas normal. Namun harapan hidup
penduduk di Kerala ternyata 10 – 15 tahun lebih panjang dari pada harapan hidup
rata-rata penduduk India. Dari beberapa data epidemiologi yang berhasil
dikumpulkan inilah beberapa pakar radiobiologi menduga adanya hormesis radiasi
pada manusia.
Dengan ditemukannya fenomena
hormesis ini maka saat ini ada dua anggapan yang saling bertolak belakang
tentang efek radiasi dosis rendah. Anggapan pertama mengatakan bahwa sekecil
apapun dosis radiasi yang diterima tubuh dapat mengakibatkan terjadinya
kerusakan sel sehingga memberikan peluang timbulnya kanker maupun kerusakan
genetik. Anggapan pertama ini tetap dipegang teguh oleh Komisi Internasional
untuk Perlindungan Radiologi (ICRP). Bahkan data-data tentang adanya hormesis
radiasi yang ditemukan oleh ICRP sendiri hanya dianggapan sebagai penyimpangan
dan tidak pernah dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
Anggapan kedua mengatakan bahwa
radiasi dosis rendah justru dapat memberikan efek yang menguntungkan bagi
kehidupan. Anggapan ini didasarkan pada dugaan bahwa makhluk hidup mempunyai
kemampuan untuk beradaptasi pada suatu lingkungan yang dosis radiasinya lebih
tinggi dari radiasi latar alamiah. Paparan radiasi tersebut mampu merangsang
fungsi-fungsi sel dalam mengurangi kerusakan akibat paparan radiasi berikutnya,
jadi ada semacam proses imunisasi yang terjadi pada sel, dlam hal ini kerusakan
sel akibat paparan radiasi akan diimbangi bukan hanya dalam bentuk perbaikan
kembali sel yang rusak melainkan juga ketahanan sel terhadap kerusakan akibat
paparan radiasi berikutnya.
Jika dugaan adanya efek hormesis
dari paparan radiasi dosis rendah terhadap tubuh manusia benar adanya, maka
penerimaan radiasi dosis rendah oleh tubuh manusia tidak perlu dicemaskan,
misal dosis yang diterima karena seseorang bekerja dengan radiasi atau berada
di medan radiasi. Hasil akhir dari paparan radiasi dosis rendah ini justru
menguntungkan. Artinya, radiasi pengion ternyata tidak selalu menimbulkan efek
biologi negatif bagi organisme. Namun untuk meyakinkan kebenaran fenomena
hormesis itu masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan menyeluruh
sehingga diperoleh data-data pendukung baru yang dapat memperkuat dugaan itu.
RADIASI ALAM
Radiasi adalah pemancaran dan
perambatan gelombang yang membawa tenaga melalui ruang atau antara, misal
pemancaran dan perambatan gelombang elektromagnetik, gelombang bunyi; gelombang
lenting; penyinaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa radiasi bukan hanya
radiasi nuklir, tetapi juga radiasi lain seperti gelombang radio, gelombang
televisi, pancaran sinar matahari, dll.
Banyak orang beranggapan bahwa
radiasi hanya terkait dengan reaktor nuklir atau bom nuklir. Yang tidak banyak
diketahui sesungguhnya adalah bahwa alam ini juga merupakan pemancar radiasi,
bahkan merupakan sumber radiasi satu-satunya bagi orang yang tidak bekerja
dengan reaktor nuklir, atau tidak terkena radiasi dari tindakan medis. Dalam
hal radiasi nuklir, ketidakstabilan atom atau inti atomlah yang menyebabkan
terjadinya pancaran radiasinya.
Radiasi yang dipancarkan alam dapat
dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu radiasi kosmis, radiasi terestrial, dan
radiasi internal. Radiasi kosmik beradal dari sumber radiasi yang berada pada
benda langit dalam tata surya dalam bentuk partikel berenergi tinggi (sinar
kosmis); dan sumber radiasi yang berasal dari unsur radioaktif di dalam kerak
bumi yang terbentuk sejak terjadinya bumi.Radiasi internal adalah radiasi yang
diterima oleh manusia dari dalam tubuh manusia sendiri, dalam hal ini sumber
radiasi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman atau udara.
Radiasi
kosmis
Sinar kosmis yang berupa partikel
akan bereaksi dengan atmosfir bumi menghasilkan tritium, berilium dan carbon
yang radioaktif. Tak seorangpun luput dari guyuran radiasi ini meskipun
jumlahnya berbeda-beda berdasarkan lokasi dan ketinggian.
Karena medan magnet bumi
mempengaruhi radiasi ini, maka orang di kutub menerima lebih banyak daripada
yang ada di katulistiwa. Selain itu orang yang berada di lokasi yang lebih
tinggi akan menerima radiasi yang lebih besar karena semakin sedikit lapisan
udara yang dapat bertindak sebagai penahan radiasi. Jadi, orang yang berada di
puncak gunung akan menerima radiasi yang lebih banyak daripada yang di
permukaan laut. Orang yang bepergian dengan pesawat terbang juga menerima lebih
banyak radiasi.
Di bawah ini adalah data yang
diperoleh oleh satu badan internasional di bawah PBB yang meneliti masalah efek
radiasi (UNSCEAR). Laju dosis diberikan dalam mikrosievert per jam, di mana 1
mikro sama dengan sepersejuta.
Ketinggian,
(m)
Laju
dosis (mikrosievert/jam)
0 (permukaan laut)
0,03
2000
0,1
4000
0,2
12000
5
20000
13
Misalnya ada seseorang bepergian
dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh
kira-kira 1 jam dengan ketinggian jelajah sekitar 12000 m, maka orang itu akan
memperoleh radiasi kosmis sebesar 5 mikrosievert. Batas dosis masyarakat umum
adalah 5 milisievert per tahun atau 2,4 mikrosievert per jam. Jadi orang itu
telah menerima radiasi lebih dari 2 kali nilai batas. Meskipun demikian, orang
ini belum tentu akan menderita kanker akibat tambahan radiasi ini.
Radiasi
terestrial
Bahan radioaktif utama yang ada
dalam kerak bumi adalah Kalium-40, Rubidium-87, unsur turunan dari Uranium-238
dan turunan Thorium-232. Besarnya radiasi dari kerak bumi ini berbeda-beda
karena konsentrasi unsur-unsur di tiap lokasi berbeda, tetapi biasanya tidak
terlalu berbeda jauh. Penelitian di Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan
Amerika Serikat menunjukkan bahwa kira-kira 95 persen populasi tinggal di
daerah dengan tingkat radiasi rerata dari bumi antara 0,3-0,6 milisievert per
tahun (bandingkan: nilai batas dosis pekerja radiasi adalah 50 milisievert per
tahun, untuk masyarakat umum 5 milisievert per tahun). Sekitar tiga persen
populasi dunia menerima dosis 1 milisievert per tahun atau lebih.
Ada beberapa tempat di dunia ini
yang memiliki tingkat radiasi dari kerak bumi yang sangat tinggi tetapi tingkat
insiden orang terkena kanker rendah.
Tempat
Penduduk
(1985)
Laju
dosis
keterangan
Pocos de Caldas, Brazil
Bukit, tak berpenghuni
~ 250 mSv/tahun
-
Guarapari, Brazil
Kota kecil, 12.000 orang
15 ~ 175 mSv/tahun
tiap musim panas didatangi 30.000
pelancong
Kerala & Tamil Nadu, India
~70.000 orang
3,8 ~ 17 mSv/tahun
-
Ramsar, Iran
~ Tak tercatat
~ 400 mSv/tahun
-
Menurut perhitungan UNSCEAR,
penduduk bumi menerima radiasi dari kerak bumi ini kira-kira 350 mikorosievert
per tahun.
Radiasi
internal
Manusia juga menerima pancaran
radiasi dari dalam tubuhnya sendiri. Unsur radioaktif ini kebanyakan berasal
dari sumber kerak bumi yang masuk melalui udara yang dihirup, air yang diminum
ataupun makanan. Unsur yang meradiasi manusia dari dalam ini kebanyakan berupa
tritium, Carbon-14, Kalium-40, Timah Hitam (Pb-210) dan Polonium-210. Radiasi
internal ini umumnya merupakan 11% total radiasi yang diterima seseorang.
Penduduk di tempat paling utara di
bumi menerima radiasi internal dari Polonium-210 kira-kira 35 kali nilai
rata-rata dari daging kijang yang mereka makan. Penduduk di daerah Australia
Barat yang kaya dengan uranium menerima radiasi internal kira-kira 75 kali
nilai rata-rata dari daging domba, kangguru dan offal yang mereka konsumsi.
Seseorang yang ada di dalam gedung
atau rumah dapat menerima radiasi dari sumber yang ada dalam bahan bangunan.
Sumber radiasi yang terutama di sini adalah radon yang merupakan gas turunan
peluruhan Uranium-238 dan Thorium-232. Yang berbahaya dari gas radon ini adalah
anak turunannya yang akhirnya menjadi timah hitam yang stabil. Di daerah yang
beriklim dingin, konsentrasi radon di dalam rumah bisa lebih tinggi daripada di
luar, akan tetapi di daerah tropis konsentrasi di dalam maupun di luar bisa
sama (karena kondisi rumah yang terbuka). Radiasi yang diterima dari radon ini
kira-kira 50% dari total radiasi yang diterima dari alam.
Radiasi
dari tindakan medis
Radiasi dari tindakan medis
merupakan radiasi yang berasal dari sumber buatan manusia, jadi sesungguhnya
bukan merupakan radiasi dari alam. Radiasi dari tindakan medis ini dituliskan
di sini sebagai pembanding.
Dalam bidang kedokteran radiasi
digunakan sebagai alat pemeriksaan (diagnosis) maupun penyembuhan (terapi).
Pesawat sinar-X atau Roentgen merupakan alat diagnosis yang paling banyak
dikenal dan dosis radiasi yang diterima dari roentgen ini merupakan dosis
tunggal (sekaligus) terbesar yang diterima dari radiasi buatan manusia. Dalam
sekali penyinaran sinar-X ke dada, seseorang dapat menerima dosis radiasi total
sejumlah 35-90 hari jumlah radiasi yang diterima dari alam. Penyinaran sinar-X
untuk pemeriksaan gigi memberikan dosis total kira-kira 3 hari jumlah radiasi
yang diterima dari alam. Penyinaran radiasi untuk penyembuhan kanker nilai
dosisnya kira-kira ribuan kali dari yang diterima dari alam.
Meskipun dosis radiasi yang diterima
dari kedokteran ini cukup tinggi, orang masih mau menerimanya karena nilai
manfaatnya jauh lebih besar daripada iesikonya.
Radiasi
dari reaktor nuklir
Banyak orang beranggapan bahwa
tinggal di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir akan menyebabkan terkena
radiasi yang tinggi. Meskipun di dalam reaktor terdapat banyak sekali unsur
radioaktif, tetapi sistem keselamatan reaktor membuat jumlah lepasan radiasi ke
lingkungan sangat kecil. Dalam kondisi normal, seseorang yang tinggal di radius
1-6 km dari reaktor menerima radiasi tambahan tak lebih daripada 0,005
milisievert per tahun. Nilai ini jauh lebih kecil daripada yang diterima dari
alam (kira-kira 2 milisievert per tahun) atau 1/400 nilai radiasi dari alam.
Radiasi yang dipancarakan dari PLTN
sesungguhnya lebih kecail daripada radiasi dari pembangkit listrik berbahan
bakar batubara maupun minyak. Radiasi yang diterima orang per orang di sekitar
PLT Batubara bisa 3 kali lebih tinggi daripada yang diterima dari PLTN.
Radio-isotop adalah bidang kedokteran memanfaatkan materi
radioaktif untuk menegakkan diagnosa, terapi dan mempelajari penyakit manusia.
Henry N Wagner Jr, radio-isotop nuklir sebagai segi tiga dengan sisi-sisi:
radio farmaka, instrumen, biomedik dan penderita di tengah-tengah. Atom terdiri
inti, neutron dan proton yang dikelilingi lintasan elektron K, L, H, O dan Q. Dalam keadaan stabil, energi ikatan inti atom berada dalam
tingkat tertentu. Keadaan tidak stabil, energi ikatan inti atom berubah
sehingga inti atom akan berusaha untuk mencapai tingkat keseimbangan yang baru
dengan memecahkan diri (inti atom menjadi 2 atau lebih, lebih kecil) atau
mengeluarkan energi tertentu. Keadaan inti atom ini disebut radioaktif dan
perubahan sebagai peluruhan. Pada waktu meluruh terjadi radiasi partikel
(radiasi elektromagnetik). Sinar partikel adalah sinar a (inti helium = 2 He) dan
sinar b (elektron = e) sedangkan gelombang elektromagnetik sebagai sinar g. Di Indonesia, sinar b dari isotop I131
untuk terapi hypertroidisme dan Ca thyroid; sinar g I131
mempunyai daya tembus besar untuk scanning kelenjar thyroid dan grafik
renogram. Instrumen (Gama kamera) Detektornya merupakan rangkaian elektronik yang dapat
merubah sinar g menjadi data yang dapat dimiliki. Detektor
skintilasi adalah kristal NaI, bila terkena sinar g terjadi
eksitasi dan sinar berkilau, bila membentur lapisan fotoelektrik terjadi
elektron, diperbanyak dg multiplier terbentuk pulsa listrik sehingga data di
layar skala berupa angka pada pemeriksaan up take kelenjar thyroid, grafik pada
renogram dan titik-titk pada scanning organ. Besarnya angka, tingginya grafik dan banyaknya titik-titik
dalam satuan waktu sebanding dengan banyaknya sinar g yang
membentur kristal. Keadaan sumber radiasi dinilai sebagai peta energi
berbentuk angka, scanning dan grafik. Radio-farmaka Radio-farmaka senyawa aktif yang dimasukkan ke dalam tubuh
melalui oral, injeksi untuk menegakkan diagnosa, terapi dan ikut metabolisme
tubuh secara selektif. Untuk menilai keadaan tubuh atau organ dimana organ
sebagai sumber radiasi sehingga hanya organ tersebut yang menangkap unsur
radioaktif secara selektif. Komponen radio-farmaka : a. Radio aktif : menandai lbh dari satu pembawa materi. b. Pembawa materi : - Dapat ditandai oleh lebih satu radioaktif. - Membawa radio-aktif ke organ tubuh tertentu yang dapat
ditempati atau menangkap pembawa materi sehingga bahan radio-aktif
sebagai sumber radiasi. Bila sebagian atau seluruh organ gagal ditempati/menangkap
radio-farmaka atau sebaliknya terlalu banyak maka peta energi organ tersebut
berubah. Misalnya pada abses hati menimbulkan gambaran cold area
karena kegagalan sel hati di daerah abses untuk menangkap radio-farmaka. Metoda penempatan radiofarmaka dalam organ tubuh 1. Proses fagositosis: - Pembawa materi mikrokoloid : Tc 99 m, In – 113 m
atau Av – 198 difagositosit system retikulo endothelial (RES) tubuh setelah
diinjeksikan intra vena. - Untuk scanning hati, limpa, sumsum tulang dan kelenjar
getah bening regional diberikan subkutan. 2. Transportasi aktif: - Secara aktif sel-sel organ tubuh memindahkan
radio-farmaka dari plasma darah ke dalam organ kemudian ikut metabolisme atau dikeluarkan
dari tubuh. - I131 berbentuk garam sodium ditransfer ke sel
thyroid untuk membuat T3 dan T4 - Tc – 99 m IDA dan I 131 Rose Bengal oleh sel
polygonal hati ditransfer dari darah kemudian diekskresi ke usus lewat sel empedu. - I131 Hippuran diekskresi sel tubuli untuk
memeriksa fungsi ginjal dengan pemeriksaan renogram. 3. Penghalang kapiler - Pembawa materi makrokoloid 20 – 30 m, diinjeksikan intra
vena menjadi penghalang kapiler paru. - Tc – 99 m makro koloid, membuat scanning perfusi paru
untuk mendeteksi emboli paru. 4. Pertukaran difus: - Pembawa materi yang telah ditandai radio aktif akan saling
tukar tempat dengan senyawa yang sama dari organ tubuh. - Polifosfat Tc – 99 m bertukar tempat dengan senyawa
polifosfat, distribusi Tc – 99 m dalam tulang akan merata 3 jam setelah diberikan
radiofarmaka. - RIHSA dan cairan interselluler otak bila ada kerusakan
sawar darah otak untuk deteksi lesi otak. 5. Kampertemental - Radio-farmaka dapat menggambarkan blood pool karena
keberadaanya cukup lama dalam darah, digunakan untuk scanning jantung
(ventrikulo-grafi) dan placenta (plasentografi) karena bahaya terhadap janin
diganti dengan USG. - RIHSA, Cr51 eritrosit atau Tc – 99 m Sn
erithrosit untuk ventrikulo-grafi. 6. Pengasingan sel: - Erithrosit ditandai oleh Cr51 dan dipanaskan
500 C selama 1 menit kemudian dimasukkan kembali ke dalam tubuh secara intra vena
kemudian diasingkan ke limpa untuk scanning limpa. - Penempatan TI201 dalam miokard jantung sehat
dan terjadinya defect aktifitas permanen di daerah infark atau defect sementara di miokard
yang iskemik. Radio-isotop sebagai pencitraan diagnostik Radio-isotop memberikan data pencitraan (imaging) organ
merupakan pemeriksaan in vivo oleh karena menjadikan organ tubuh sebagai sumber
radiasi. Peta energi sumber radiasi dapat diamati untuk menentukan besar,
bentuk dan letak organ serta kelainannya. Radio-farmaka yang tidak diberikan
penderita untuk menghitung konsentrasi hormon atau obat dalam darah. Dengan
mengambil sample plasma penderita dan direaksikan dengan radioaktif yang
ditetapkan baik reaksi kompetitif maupun reaksi immunology menghasilkan
ketepatan baik, misalnya Reaksi Radio Immuno Assay (RIA) untuk menghitung
hormon T3 dan T4. Scaning tulang Kegunaan: Mendeteksi tumor primer dan metastasis keganasan. Isotop dan dosis: Tc-99 m-MDP, 10 – 15 mCi i.v memancarkan
sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: 3 – 4 jam kemudian diperiksa kamera
gamma. Scanning hati dan limpa Kegunaan: – Mengevaluasi bentuk, ukuran dan letak hati dan
limpa - Mendeteksi lesi fokal: keganasan, abses dan kista - Mendeteksi lesi difus: cirrhosis hepatis. Isotop dan dosis: Tc 99m mikrokoloid, 1-2 mCi i .v
memancarkan sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: 10 menit kemudian diperiksa kamera gamma. Scanning thyroid Kegunaan: – Menilai bentuk dan letak thyroid - Mengevaluasi nodul thyroid berfungsi atau tidak, pra dan
pasca operasi, efek terapi thyroid. Isotop dan dosis: I131 garam sodium, 30 – 100
mCi oral memancarkan sinar g 364 kev. Cara pemeriksaan: Up take I 2 jam, II 24 jam, III 48 jam,
diperiksa kamera gamma. Renogram dan scanning ginjal a. Renogram Kegunaan: – Menilai kelainan unilateral ginjal: hypertensi
renal dan cangkok ginjal. - Mengevaluasi obstruksi, nekrosis tubuler, pielonefritis,
glomerulonefritis Isotop dan dosis : I132 orthohipporate i.v, ½
mCi per kg berat badan memancarkan sinar g 364 kev. Cara pemeriksaan: 30 detik sebelum i.v ditandai, 30 menit
kemudian atau sampai aktivitis 50 % di ginjal. b. Scanning ginjal Kegunaan: – Informasi bentuk, besar dan letak ginjal. - Mengevaluasi trauma dan kista ginjal. Isotop dan dosis: Tc-99m-DTPA, 3 – 5 mCi i.v memancarkan
sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: Kencing dulu, 1 – 2 jam kemudian
diperiksa kamera gamma energi rendah. . Scanning Paru Kegunaan: Mendeteksi emboli paru, emfisema, hipertensi
pulmonal dan kanker paru. Isotop dan dosis : Tc-99m-makrokoloid, 2 mCi i.v
memancarkan sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: inspirasi beberapa kali dan tidur
terlentang tanpa bantal kemudian diperiksa kamera gamma energi rendah. Scanning Jantung Kegunaan: – Mendeteksi darah di jantung, kemampuan pompa
dan myocard. - ventikulo-grafi Isotop dan dosis: Tc-99 m-human serum albumin, Tc-99m Sn
erythrocyte dan In- 113m-transferin. Scanning otak Kegunaan: Mendeteksi kerusakan sawar darah otak (blood
brain barrier). Isotop dan dosis: Tc-99 m-pertecknetate i.v dengan dosis 20
mCi per kg berat badan. Cara pemeriksaan: 1 – 3 jam kemudian diperiksa kamera gamma
energi rendah.
MAGNETIC
RESONANCE IMAGIING (MRI)
MRI adalah suatu cara pemeriksaan diognostik ilmu
kedokteran khususnya radiologi yang menghasilkan gambaran potngan tubuh manusia
dengan menggunakan medan magnet tanpa sinar X. MRI dapat memberi info anatomi dan fisiologi secara non
invasive. Modalitas berbasis komputer [=CT] Prinsip fisika beda dengan konvensional ataupun CT Prinsip dasar MRI adalah atom yang bergetar dalam magnet.
Pada prinsip ini yang merupakan inti atom hidrogen, bila ditembak tegak lurus
pada pintinya di dalam magnet berfrekuansi tinggi secara periodik, maka proton
tersebut akan bergerak (bergetar). Bila medan magnet berfrekuensi tinggi ini
dimatikan maka proton yang bergetar tersebut akan kembali ke posisi semula dan
akan menginduksi satu kumparan yang menghasilkan sinyal elektrik yang lemah.
Bila hal ini terjadi berulang-ulang dan sinyal listrik tersebut ditangkap
kemudian diproses dalam komputer akan dapat disusun menjadi suatu gambar. Metode ini dipakai pada tubuh manusia karena mempunyai
konsentrasi atom hidrogen yang tinggi (70%). Untuk menghasilkan sebuah gambar
dari proton dibutuhkan tenaga medan magnet 0,15-0,50 Tesla yang dihasilkan
melalui magnet untuk suatu medan magnet yang rendah 0,25 Tesla dibutuhkan
kumparan yang normal dimana tenagag listrik diubah menjadi panas. Untuk medan
magnet di atas 0,30 Tesla dibutuhkan suatu kumparan khusus kumparan ini ekstrem
tinggi (- 269oC) sehingga tahanannya tidak ada sama sekali. Oleh
karena itu kumparan khusus tersebut tidak memakai listrik (sangat mahal)
Perbedaan MRI dengan konvensional radiolography
dan CT Scan
Konvensional radiolography
: -
superimposed / flat hanya 2 dimensi perlu proyeksi multi, media kontras -
kemampuan membedakan jaringan [imaging contrast] terbatas, ini tergantung
pada: – Perbedaan x-ray attenuation - Kwalitas media { mis : film } - tak
dapat mendeteksi perubahan atenuasi yang kecil, hanya antara udara, fat, soft
tissue, tulang, logam. -
Kebanyakan organ tak bisa dideteksi hanya berdasarkan perbedaan attenuase
(liver dengan lien) sehingga perlu media kontras. CT Scan: - Memakai x-ray - Lebih sensitive menilai perubahan attenuasi yang
minimal. MRI : - Tidak memakai x-ray - Informasi gambar sama dengan CT Scan - Tidak tergantung perubahan attenuasi - Tergantung pada interaksi jaringan dengan kekuatan
elektromagnetik Keuntungan MRI Keuntungan pemeriksaan dengan teknik MRI :
Tidak memakai sinar X
Tidak merusak kesehatan
Banyak pemeriksaan tanpa memerlukan zat kontras
Informasi gambar yang jelas dan menunjukkan parameter biologis
Menghasilkan potongan 3 dimensi (aksial, frontal, sagital) dan
banyak potongan yang dibuat hanya dalam satu waktu (lebih 8 potongan
sekaligus)
Komposisi sebuah pesawat MRI:
Magnet kekuatan antara 0,064 – 1,5 Tesla (T)
Coil, alat pemancar dan penerima RF
Sistem komputer yang canggih.
Tenaga listrik dan sistem pendingin
MR signal ditunjukkan dengan jumlah nucleus yang mengalami
presisi (spin density) pada volume tertentu. Dari segi kekuatan magnet:
high field magnet > 1,5 T
middle field magnet 0,5 – 1,5 T
low field magnet < 0,5 T (1 tesla =
10.000 gauss)
Dari jenis / tipe magnetnya:
superconductive
resistive
permanent
Media kontras MRI : Mempengaruhi waktu relaksasi, memperpendek T1 Dan T2
sehingga signal lebih kuat. Klasifikasi :
Ferromagnetik
Paramagnetic, mis: gadolinium, paling sering dipakai
Superparamagnetic
MRI Safety: Dapat mengenai penderita atau petugas karena faktor-faktor:
medan magnet
noise
gas (helium)
claustrophobia
kontras media
Magnet:
Efek biologik:
- perubahan ringgan ECG (T wave elevation), temporer - stimulasi langsung pada sel otot dan syaraf
karena induksi aliran listrik : magnetophosphenes - peningkatan ringan suhu badan
Efek non biologik:
- menyangkut benda-benda yang bersifat
ferromagnetic dan elektrikal device, akan mengalami missle effect karena
tarikan megnet - efek pemanasan logam ——— merusak jaringan Noise: Gangguan pendengaran temporer / permanen, diatasi
dengan Headphone /earplug. Gas: Helium sebagai pendingin pada magnet superconductive —— menguap : asfiksi —— kondensasi : frost bite Penggunaan MRI MRI merupakan pemeriksaan rutin di klinik/rumah sakit
besar. Dengan MRI pada prinsipnya hampir semua irgan tubuh dapat diperiksa,
mulai dari kepala sampai kaki terutama untuk pemeriksaan kepala & tulang
bekang yang pada pemeriksaan CT scan tidak dapat dilihat kelainannya. Indikasi:
tumor CNS
penyakit myelum
memperjelas batas antara tumor denga undema otak
membedakan tumor recurrent dengan fibrosis post radiasi
membedakan prolaps discuss recurrent dengan fibrosis post
operasi
cardiac / vascular imaging
Kontra Indikasi : Absolut tidak ada, hampir sama dengan iodium Pada kehamilan (?) Dosis : 0,2 ml / kg BB Efek samping : Rasa panas, nyeri, nausea, dizziness, headche, anaphylactic
dll Persiapan pasien : -
penjelasan tentang cara pemeriksaan (perlu kerja sama yang baik). -
Deteksi ada tidaknya alat/bahan yang ferromagnetic maupun electrical devices (
pacu jantung) -
Penderita diminta kencing dulu -
Bila menggunakan Kontras, puas minimal 2 jam Langkah-langkah pemeriksaan MRI:
penderita diletakkan dalam medan magnet
organ yang akan diperiksa “dibungkus” dengan coil
gelombang RF dihidupkan / dikirim kemudian …..
pulsa RF distop / dimatikan, kemudian …..
signal yang terbentuk direkam untuk …..
dibuat rekontruksi gambar Lain-lain : -
petugas yang masuk ruang dibatasi -
alat-alat penunjang(respirator, tabung oksigen, tracheostomy, collar brace dll,
harus bukan dari logam) -
Wanita hamil trimester I: tidak dapat diperiksa dan tidak boleh masuk ruang
periksa.
PROTEKSI
RADIASI
Tujuan proteksi radiasi : a. Pada pasien : Dosis radiasi harus sekecil mungkin sesuai
keharusan klinis. b. Pada personil : Dosis radiasi yang diterima harus
serendah mungkin dan dalam keadaan bagaimanapun juga tidak boleh melebihi dosis
maksimum yang di perkenankan. Satuan-Satuan Radiasi Rontgen Rontgen adalah satuan pemaparan radiasi yg memberikan
muatan 2,58.10-4 Coulomb per kg udara. Rad Rad adalah satuan dosis serap. 1 rad : radiasi yang diperlukan untuk melepaskan tenega 100
erg dalam 1 gram bahan yang disinar (1 rad = 100 erg/gram) Rad tidak tergantung komponen bahan yang disinar dan tenaga
radiasi, tetapi jumlah rad per R pemaparan berbeda dengan tenaga berkas sinar
dan komposisi bahan serap. Gray (Gy) 1 Gray= 100 rad 1Cgy= 1 rad Rem(Rad Equivalent Man) Rem adalah satuan dosis ekuivalen. Rem = rad x factor kualitas Rem merupakan ukuran efek biologis akibat radiasi. Karena faktor kualitas untuk sinar x dan g = 1, maka
Roentgen = 1 Rad = 1 Rem Karena tenaga yang dilepaskan ke dalam jaringan lunak oleh
1 Rontgen pemaparan hanya 5% lebih besar dari 1 Rad. Sievert (Sv) 1 Sievert (Sv) = 100 rem RBE (relatives biological effectivemen) Perbandingan dosis sinar x 250 K dengan dosis radiasi lain
yang efek biologis sama dengan dosis sinar x 250 K dengan efek biologik
tertentu / dosis radiasi lain dengan efek biologik yang sama. Faktor kualitas berbagai jenis radiasi
Jenis radiasi
Faktor kualitas
Sinar x
Sinar gamma Partikel beta Proton Neutron lambat Neutron cepat Partikel alfa
1
1
1
5
3
10
20
Nilai batas yang diizinkan Untuk perorangan, dosis yang terakumulasi selama jangka
waktu panjang atau hasil penyinaran tunggal yang mengandung kemungkinan
kerusakan sitomatik atau genetik yang dapat diabaikan dan besar dosis
ditentukan pada setiap efek yang sering terjadi terbatas pada akibat yang
ringan, sehingga tidak akan dianggap tidak dapat diterima oleh seseorang yang
tersinari dan oleh instansi yang berwenang dalam bidang medis. Pengendalian tingkatan pemaparan radiasi Cara Pengendalian tingkatan pemaparan radiasi : 1. Jarak : Intensitas radiasi dipengaruhi oleh hukum
kuadrat terbalik sehingga cara ini efektif. 2. Waktu : Pemaparan dapat diatur dengan : - Membatasi waktu generator dihidupkan. - Pembatasan waktu berkas diarahkan ke ruang tertentu. - Pembatasan waktu ruang yang dipakai. 3. Perisai : Digunakan bila ternyata jarak dan waktu tidak
mencukupi, maka dibuat dari timbal atau beton. Jenis perisai : Perisai primer: Memberi proteksi terhadap radiasi primer
(berkas sinar gamna) Contoh: Tempat tabung sinar x dan kaca timbal pada Tabir fluoroskopi Perisai sekunder: Memberi proteksi terhadap radiasi
sekunder (sinar bocor dan hambur) Contoh: Tabir sarat timbal pada tabir fluroskopi, pakaian proteksi, kursi fluoroskopi dan perisai yang dapat dipindah-pindah. Proteksi radiasi a. Pada pasien: 1. Pemeriksaan sinar x hanya atas permintaan seseorang
dokter. 2. Pemakaian filtrasi maksimum pada sinar primer. 3. Pemakaian voltage yang lebih tinggi (bila mungkin)
sehingga daya tembusnya lebih kuat 4. Jarak focus pasien jangan terlalu pendek. Hukum kuadrat terbalik: Intensitas sinar x berbanding
terbalik dengan jarak pangkat dua. Jarak focus kulit pada: - sinar tembus tidak boleh kurang dari 45 cm. - radiografi tidak boleh kurang dari 90 cm 5. Daerah yang disinari harus sekecil mungkin, misalnya
dengan menggunakan konus (untuk radiografi) atau diafragma (untuk sinar
tembus). 6. Waktu penyinaran sesingkat mungkin. Contoh : pemeriksaan sinar tembus tidak boleh melebihi 5
menit pada salah satu bagian tubuh. 7. Alat-alat kelamin dilindungi. 8. Pasien hamil, terutama trisemester pertama tidak boleh
diperiksa radiologik. 9. Peningkatan sistem pertahanan seluler radiasi dengan
antioksidan: Cystein, vitamin E dan vitamin C. b. Pada dokter pemeriksa dan petugas radiologi: 1. Hindari penyinaran bagian-bagian tubuh tidak terlindungi 2. Pemakaian sarung tangan, apron atau gaun pelindung yanqg
berlapis Pb dengan tebal maksimum 0,5 mm Pb. 3. Hindari melakukan sinar tembus, usahakan melakukan
radiografi 4. Hindari pemeriksaan sinar tembus tulang-tulang kepala
(head fluoroscopy) 5. Akomodasi mata sebelum melakukan pemekrisaan sinar
tembus paling sedikit selama 20 menit. 6. Gunakan alat-alat pengukur sinar Rontgen. 7. Pemeriksaan pesawat sebelum dipakai. Contoh: Perlindungan terhadap bahaya elektris. Adanya kebocoran pada tabung pesawat. Voltage yang aman dan lamanya. 8. Pemeriksaan rutin terhadap kemungkinan bocor / rusaknya
perlengkapan- perlengkapan pelindung berlapis Pb. Alat-alat yang dipakai untuk mencatat dosis
personil : 1. Film Badge: Mencatat dosis radiasi yang diterima
personil yang terkena berbagai jenis radiasi dan mampu mencatat dosis radiasi
yang berasal dari sumber-sumber radiasi yang berlainan
kualitasnya. 2. Dosimeter Saku: Pengukuran dosis yang mempunyai respon
terhadap radiasi sebanding dengan jumlah pasangan ion yang dihasilkan selama perjalanan melalui elemen pendeteksian selain itu
pengukurannya lebih teliti dari pada film badge. Alat Pengukuran Radiasi Menggunakan Geiger-Muller Survey meter yang bacaannya
berlangsung dalam mR/jam (milli Rontgen per jam) atau count per menit dengan
penggunaannya di radio-diagnostik :
Mengukur laju pemaparan radiasi di tempat-tempat personil
bekerja, dinding luar ruang sinar x, pintu, jendela kaca Pb.
Tata tertip penggunaan untuk proteksi personil Personil dianjurkan memakai film badge terus menerus dan di
ruang pesawat sinar x diagnostik personil: 1. Diharuskan menggunakan perisai dan pakaian proteksi yang
tersedia 2. Tidak boleh memegang pasien selama penyinaran 3. Bila memakai pesawat sinar x dental dan mobil x-Ray unit
(tanpa perisai pelindung) harus berdiri di luar berkas sinar dan sejauh
mungkin dari pasien.
Berkisah tentang apa saja yang inspiratif
agar hidup lebih hidup. Namun, karena dikelola oleh orang yang sudah sangat
lama didunia "radiografi" jadi harap maklum bila isi didominasi
mengenai dunia ke'radiologi'an. Andapun boleh berkontribusi, dengan cara
mengisi formulir yang terdapat di halaman terakhir blog ini , selamat
berkontribusi !!
Radiasi yang digunakan di Radiologi di
samping bermanfaat untuk membantu menegakkan diagnosa, juga dapat menimbulkan
bahaya bagi pekerja radiasi dan masyarakat umum yang berada disekitar sumber
radiasi tersebut. Besarnya bahaya radiasi ini ditentukan oleh besarnya radiasi,
jarak dari sumber radiasi, dan ada tidaknya pelindung radiasi.
Upaya untuk melindungi pekerja radiasi serta masyarakat umum dari ancaman
bahaya radiasi dapat dilakukan dengan cara :
1. Mendesain ruangan radiasi sedemikian rupa sehingga paparan radiasi tidak
melebihi batas-batas yang dianggap aman.
2. Melengkapi setiap ruangan radiasi dengan perlengkapan proteksi radiasi yang
tepat dalam jumlah yang cukup.
3. Melengkapi setiap pekerja radiasi dan pekerja lainnya yang karena bidang
pekerjaannya harus berada di sekitar medan radiasi dengan alat monitor radiasi.
4. Memakai pesawat radiasi yang memenuhi persyaratan keamanan radiasi.
5. Membuat dan melaksankan prosedur bekerja dengan radiasi yang baik dan aman.
1.
Desain dan paparan di ruangan radiasi
a. Ukuran Ruangan Radiasi
· Ukuran minimal ruangan radiasi sinar-x adalah panjang 4 meter, lebar 3 meter,
tinggi 2,8 meter.
· Ukuran tersebut tidak termasuk ruang operator dan kamar ganti pasien.
b. Tebal Dinding
· Tebal dinding suatu ruangan radiasi sinar-x sedemikian rupa sehingga
penyerapan radiasinya setara dengan penyerapan radiasi dari timbal setebal 2
mm.
· Tebal dinding yang terbuat dari beton dengan rapat jenis 2,35 gr/cc adalah 15
cm.
· Tebal dinding yang terbuat dari bata dengan plester adalah 25 cm.
c. Pintu dan Jendela
· Pintu serta lobang-lobang yang ada di dinding (misal lobang stop kontak, dll)
harus diberi penahan-penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal.
· Di depan pintu ruangan radiasi harus ada lampu merah yang menyala ketika meja
kontrol pesawat dihidupkan.
· Tujuannya adalah :
ã Untuk membedakan ruangan yang mempunyai paparan bahaya radiasi dengan ruangan
yang tidak mempunyai paparan bahaya radiasi.
ã Sebagai indikator peringatan bagi orang lain selain petugas medis untuk tidak
memasuki ruangan karena ada bahaya radiasi di dalam ruangan tersebut.
ã Sebagai indikator bahwa di dalam ruangan tersebut ada pesawat rontgen sedang
aktif.
ã Diharapkan ruangan pemeriksaan rontgen selalu tertutup rapat untuk mencegah
bahaya paparan radiasi terhadap orang lain di sekitar ruangan pemeriksaan
rontgen.
· Jendela di ruangan radiasi letaknya minimal 2 meter dari lantai luar. Bila
ada jendela yang letaknya kurang dari 2 meter harus diberi penahan radiasi yang
setara dengan 2 mm timbal dan jendela tersebut harus ditutup ketika penyinaran
sedang berlangsung.
· Jendela pengamat di ruang operator harus diberi kaca penahan radiasi minimal
setara dengan 2 mm timbal.
d. Paparan Radiasi
· Besarnya paparan radiasi yang masih dianggap aman di ruangan radiasi dan
daerah sekitarnya tergantung kepada pengguna ruangan tersebut.
· Untuk ruangan yang digunakan oleh pekerja radiasi besarnya paparan 100
mR/minggu.
· Untuk ruangan yang digunakan oleh selain pekerja radiasi besarnya paparan 10
mR/minggu.
2.
Perlengkapan Proteksi Radiasi
a.Pakaian Proteksi Radiasi (APRON)
Setiap ruangan radiasi disediakan pakaian proteksi radiasi dalam jumlah yang
cukup dan ketebalan yang setara dengan 0,35 mm timbal.
b.Sarung tangan timbal
Setiap ruangan fluoroskopi konvensional harus disediakan sarung tangan timbal.
3. Alat monitor Radiasi
a. Film Badge
· Setiap pekerja radiasi dan/atau pekerja lainnya yang karena bidang
pekerjaannya harus berada di sekitar medan radiasi diharuskan memakai film
badge setiap memulai pekerjaannya setiap hari.
· Film badge dipakai pada pakaian kerja pada daerah yang diperkirakan paling
banyak menerima radiasi atau pada daerah yang dianggap mewakili penerimaan
dosis seluruh tubuh seperti dada bagian depan atau panggul bagian depan.
b. Survey meter
Di unit radiologi harus disediakan alat survey meter yang dapat digunakan untuk
mengukur paparan radiasi di ruangan serta mengukur kebocoran alat radiasi.
4.
Pesawat Radiasi
a. Kebocoran tabung
Tabung pesawat rontgen (tube) harus mampu menahan radiasi sehingga radiasi yang
menembusnya tidak melebihi 100 mR per jam pada jarak 1 meter dari fokus pada
tegangan maksimum.
b. Filter
Filter radiasi harus terpasang pada setiap tabung pesawat rontgen.
c. Diafragma berkas radiasi
· Diafragma berkas radiasi pada suatu pesawat harus berfungsi dengan baik.
· Ketebalan difragma minimal setara dengan 2 mm timbal.
· Posisi berkas sinar difragma harus berhimpit dengan berkas radiasi.
d. Peralatan Fluoroskopi
· Tabir flouroskopi harus mengandung gelas timbal dengan ketebalan yang setara
dengan 2 mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum 100 KV atau 2,5
mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum 150 KV.
· Karet timbal yang digantungkan pada sisi tabir flouroskopi harus mempunyai
ketebalan setara dengan 0,5 timbal dengan ukuran 45 x 45 cm.
· Tabung peswat rontgen dengan tabir flouroskopi harus dihubungkan secara
permanen dengan sebuah stop kontak otomatis harus dipasang untuk mencegah
beroperasinya pesawat apabila pusat berkas radiasi tidak jatuh tepat di
tengah-tengah tabir flouroskopi.
· Semua peralatan flouroskopi harus dilengkapi dengan tombol pengatur waktu
yang memberikan peringatan dengan bunyi sesudah waktu penyinaran terlampaui.
Penyinaran akan berakhir jika pengatur waktu tidak di reset dalam waktu satu
menit.
5. Pemeriksaan Kesehatan
Setiap pekerja radiasi harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala
sedikitnya sekali dalam setahun.
6. Kalibrasi Pesawat Rontgen
Pesawat rontgen harus dikalibrasi secara berkala terutama untuk memastikan
penunjukkan angka-angkanya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
7. Dosis Radiasi yang diterima oleh pekerja
radiasi
· Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi
didasarkan atas rumus dosis akumulasi :
D = 5 ( N - 18 ) rem
D :Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi
selama masa kerjanya
N :Usia pekerja radiasi yang bersangkutan dinyatakan dalam tahun
18:Usia minimum seseorang yang diizinkan bekerja dalam medan radiasi dinyatakan
dalam tahun
· Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam
jangka waktu 1 tahun ialah 5 rem.
· Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam
jangka waktu 13 minggu ialah 1,25 rem . Sedangkan untuk wanita hamil 1 rem.
· Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam
jangka waktu satu minggu adalah 0,1 rem.
8. Ekstra Fooding
Rumah sakit berkewajiban menyediakan makanan ekstra puding yang bergizi bagi
pekerja radiasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap radiasi.
9. Prosedur Kerja di Ruangan Radiasi
1. Menghidupkan lampu merah yang berada di atas pintu masuk ruang pemeriksaan.
2. Berkas sinar langsung tidak boleh mengenai orang lain selain pasien yang
sedang diperiksa.
3. Pada waktu penyinaran berlangsung, semua yang tidak berkepentingan berada di
luar ruangan pemeriksaan , sedangkan petugas berada di ruang operator. Kecuali
sedang menggunakan flouroskopi maka petugas memakai pakaian proteksi radiasi.
4. Waktu pemeriksaan harus dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan.
5. Tidak menyalakan flouroskopi apabila sedang ada pergantian kaset.
6. Menghindarkan terjadinya pengulangan foto.
7. Apabila perlu pada pasien dipasang gonad shield.
8. Ukuran berkas sinar harus dibatasi dengan diafragma sehingga pasien tidak
menerima radiasi melebihi dari yang diperlukan.
9. Apabila film atau pasien memerlukan penopang atau bantuan, sedapat mungkin
gunakan penopang atau bantuan mekanik. Jika tetap diperlukan seseorang untuk
membantu pasien atau memegang film selama penyinaran maka ia harus memakai pakaian
proteksi radiasi dan sarung tangan timbal serta menghindari berkas sinar
langsung dengan cara berdiri disamping berkas utama.
10. Pemeriksaan radiologi tidak boleh dilakukan tanpa permintaan dari dokter.
10. Prosedur Kerja di Ruang ICU dengan menggunakan
Mobile Unit X-Ray
1. Berkas sinar langsung tidak boleh mengenai orang lain selain pasien yang
sedang diperiksa.
2. Pada waktu penyinaran berlangsung, semua petugas harus berada sejauh mungkin
dari pasien dan memakai pakaian proteksi radiasi.
3. Waktu pemeriksaan harus dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan.
4. Menghindarkan terjadinya pengulangan foto.
5. Apabila perlu pada pasien dipasang gonad shield.
6. Ukuran berkas sinar harus dibatasi dengan diafragma sehingga pasien tidak
menerima radiasi melebihi dari yang diperlukan.
7. Apabila film atau pasien memerlukan penopang atau bantuan, sedapat mungkin
gunakan penopang atau bantuan mekanik. Jika tetap diperlukan seseorang untuk
membantu pasien atau memegang film selama penyinaran maka ia harus memakai
pakaian proteksi radiasi dan sarung tangan timbal serta menghindari berkas
sinar langsung dengan cara berdiri disamping berkas utama.
Posted by riega | Uncategorized | Wednesday 31 March
2010 9:16 pm
Radio-isotop adalah bidang kedokteran memanfaatkan materi
radioaktif untuk menegakkan diagnosa, terapi dan mempelajari penyakit manusia.
Henry N Wagner Jr, radio-isotop nuklir sebagai segi tiga dengan sisi-sisi:
radio farmaka, instrumen, biomedik dan penderita di tengah-tengah. Atom terdiri
inti, neutron dan proton yang dikelilingi lintasan elektron K, L, H, O dan Q. Dalam keadaan stabil, energi ikatan inti atom berada dalam
tingkat tertentu. Keadaan tidak stabil, energi ikatan inti atom berubah
sehingga inti atom akan berusaha untuk mencapai tingkat keseimbangan yang baru
dengan memecahkan diri (inti atom menjadi 2 atau lebih, lebih kecil) atau
mengeluarkan energi tertentu. Keadaan inti atom ini disebut radioaktif dan
perubahan sebagai peluruhan. Pada waktu meluruh terjadi radiasi partikel
(radiasi elektromagnetik). Sinar partikel adalah sinar a (inti helium = 2 He) dan
sinar b (elektron = e) sedangkan gelombang elektromagnetik sebagai sinar g. Di Indonesia, sinar b dari isotop I131
untuk terapi hypertroidisme dan Ca thyroid; sinar g I131
mempunyai daya tembus besar untuk scanning kelenjar thyroid dan grafik
renogram. Instrumen (Gama kamera) Detektornya merupakan rangkaian elektronik yang dapat
merubah sinar g menjadi data yang dapat dimiliki. Detektor
skintilasi adalah kristal NaI, bila terkena sinar g terjadi
eksitasi dan sinar berkilau, bila membentur lapisan fotoelektrik terjadi
elektron, diperbanyak dg multiplier terbentuk pulsa listrik sehingga data di
layar skala berupa angka pada pemeriksaan up take kelenjar thyroid, grafik pada
renogram dan titik-titk pada scanning organ. Besarnya angka, tingginya grafik dan banyaknya titik-titik
dalam satuan waktu sebanding dengan banyaknya sinar g yang
membentur kristal. Keadaan sumber radiasi dinilai sebagai peta energi
berbentuk angka, scanning dan grafik. Radio-farmaka Radio-farmaka senyawa aktif yang dimasukkan ke dalam tubuh
melalui oral, injeksi untuk menegakkan diagnosa, terapi dan ikut metabolisme
tubuh secara selektif. Untuk menilai keadaan tubuh atau organ dimana organ
sebagai sumber radiasi sehingga hanya organ tersebut yang menangkap unsur
radioaktif secara selektif. Komponen radio-farmaka : a. Radio aktif : menandai lbh dari satu pembawa materi. b. Pembawa materi : - Dapat ditandai oleh lebih satu radioaktif. - Membawa radio-aktif ke organ tubuh tertentu yang dapat
ditempati atau menangkap pembawa materi sehingga bahan radio-aktif
sebagai sumber radiasi. Bila sebagian atau seluruh organ gagal ditempati/menangkap
radio-farmaka atau sebaliknya terlalu banyak maka peta energi organ tersebut
berubah. Misalnya pada abses hati menimbulkan gambaran cold area
karena kegagalan sel hati di daerah abses untuk menangkap radio-farmaka. Metoda penempatan radiofarmaka dalam organ tubuh 1. Proses fagositosis: - Pembawa materi mikrokoloid : Tc 99 m, In – 113 m
atau Av – 198 difagositosit system retikulo endothelial (RES) tubuh setelah
diinjeksikan intra vena. - Untuk scanning hati, limpa, sumsum tulang dan kelenjar
getah bening regional diberikan subkutan. 2. Transportasi aktif: - Secara aktif sel-sel organ tubuh memindahkan
radio-farmaka dari plasma darah ke dalam organ kemudian ikut metabolisme atau dikeluarkan
dari tubuh. - I131 berbentuk garam sodium ditransfer ke sel thyroid
untuk membuat T3 dan T4 - Tc – 99 m IDA dan I 131 Rose Bengal oleh sel
polygonal hati ditransfer dari darah kemudian diekskresi ke usus lewat sel empedu. - I131 Hippuran diekskresi sel tubuli untuk
memeriksa fungsi ginjal dengan pemeriksaan renogram. 3. Penghalang kapiler - Pembawa materi makrokoloid 20 – 30 m, diinjeksikan intra
vena menjadi penghalang kapiler paru. - Tc – 99 m makro koloid, membuat scanning perfusi paru
untuk mendeteksi emboli paru. 4. Pertukaran difus: - Pembawa materi yang telah ditandai radio aktif akan
saling tukar tempat dengan senyawa yang sama dari organ tubuh. - Polifosfat Tc – 99 m bertukar tempat dengan senyawa
polifosfat, distribusi Tc – 99 m dalam tulang akan merata 3 jam setelah diberikan
radiofarmaka. - RIHSA dan cairan interselluler otak bila ada kerusakan
sawar darah otak untuk deteksi lesi otak. 5. Kampertemental - Radio-farmaka dapat menggambarkan blood pool karena
keberadaanya cukup lama dalam darah, digunakan untuk scanning jantung
(ventrikulo-grafi) dan placenta (plasentografi) karena bahaya terhadap janin
diganti dengan USG. - RIHSA, Cr51 eritrosit atau Tc – 99 m Sn
erithrosit untuk ventrikulo-grafi. 6. Pengasingan sel: - Erithrosit ditandai oleh Cr51 dan dipanaskan
500 C selama 1 menit kemudian dimasukkan kembali ke dalam tubuh secara intra vena
kemudian diasingkan ke limpa untuk scanning limpa. - Penempatan TI201 dalam miokard jantung sehat
dan terjadinya defect aktifitas permanen di daerah infark atau defect sementara di miokard
yang iskemik. Radio-isotop sebagai pencitraan diagnostik Radio-isotop memberikan data pencitraan (imaging) organ
merupakan pemeriksaan in vivo oleh karena menjadikan organ tubuh sebagai sumber
radiasi. Peta energi sumber radiasi dapat diamati untuk menentukan besar,
bentuk dan letak organ serta kelainannya. Radio-farmaka yang tidak diberikan
penderita untuk menghitung konsentrasi hormon atau obat dalam darah. Dengan
mengambil sample plasma penderita dan direaksikan dengan radioaktif yang
ditetapkan baik reaksi kompetitif maupun reaksi immunology menghasilkan
ketepatan baik, misalnya Reaksi Radio Immuno Assay (RIA) untuk menghitung
hormon T3 dan T4. Scaning tulang Kegunaan: Mendeteksi tumor primer dan metastasis keganasan. Isotop dan dosis: Tc-99 m-MDP, 10 – 15 mCi i.v memancarkan
sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: 3 – 4 jam kemudian diperiksa kamera
gamma. Scanning hati dan limpa Kegunaan: – Mengevaluasi bentuk, ukuran dan letak hati dan
limpa - Mendeteksi lesi fokal: keganasan, abses dan kista - Mendeteksi lesi difus: cirrhosis hepatis. Isotop dan dosis: Tc 99m mikrokoloid, 1-2 mCi i .v
memancarkan sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: 10 menit kemudian diperiksa kamera gamma. Scanning thyroid Kegunaan: – Menilai bentuk dan letak thyroid - Mengevaluasi nodul thyroid berfungsi atau tidak, pra dan
pasca operasi, efek terapi thyroid. Isotop dan dosis: I131 garam sodium, 30 – 100
mCi oral memancarkan sinar g 364 kev. Cara pemeriksaan: Up take I 2 jam, II 24 jam, III 48 jam,
diperiksa kamera gamma. Renogram dan scanning ginjal a. Renogram Kegunaan: – Menilai kelainan unilateral ginjal: hypertensi
renal dan cangkok ginjal. - Mengevaluasi obstruksi, nekrosis tubuler, pielonefritis,
glomerulonefritis Isotop dan dosis : I132 orthohipporate i.v, ½
mCi per kg berat badan memancarkan sinar g 364 kev. Cara pemeriksaan: 30 detik sebelum i.v ditandai, 30 menit
kemudian atau sampai aktivitis 50 % di ginjal. b. Scanning ginjal Kegunaan: – Informasi bentuk, besar dan letak ginjal. - Mengevaluasi trauma dan kista ginjal. Isotop dan dosis: Tc-99m-DTPA, 3 – 5 mCi i.v memancarkan
sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: Kencing dulu, 1 – 2 jam kemudian
diperiksa kamera gamma energi rendah. . Scanning Paru Kegunaan: Mendeteksi emboli paru, emfisema, hipertensi
pulmonal dan kanker paru. Isotop dan dosis : Tc-99m-makrokoloid, 2 mCi i.v
memancarkan sinar g 140 kev. Cara pemeriksaan: inspirasi beberapa kali dan tidur
terlentang tanpa bantal kemudian diperiksa kamera gamma energi rendah. Scanning Jantung Kegunaan: – Mendeteksi darah di jantung, kemampuan pompa
dan myocard. - ventikulo-grafi Isotop dan dosis: Tc-99 m-human serum albumin, Tc-99m Sn
erythrocyte dan In- 113m-transferin. Scanning otak Kegunaan: Mendeteksi kerusakan sawar darah otak (blood
brain barrier). Isotop dan dosis: Tc-99 m-pertecknetate i.v dengan dosis 20
mCi per kg berat badan. Cara pemeriksaan: 1 – 3 jam kemudian diperiksa kamera gamma
energi rendah.
MAGNETIC
RESONANCE IMAGIING (MRI)
MRI adalah suatu cara pemeriksaan diognostik ilmu
kedokteran khususnya radiologi yang menghasilkan gambaran potngan tubuh manusia
dengan menggunakan medan magnet tanpa sinar X. MRI dapat memberi info anatomi dan fisiologi secara non
invasive. Modalitas berbasis komputer [=CT] Prinsip fisika beda dengan konvensional ataupun CT Prinsip dasar MRI adalah atom yang bergetar dalam magnet.
Pada prinsip ini yang merupakan inti atom hidrogen, bila ditembak tegak lurus
pada pintinya di dalam magnet berfrekuansi tinggi secara periodik, maka proton
tersebut akan bergerak (bergetar). Bila medan magnet berfrekuensi tinggi ini
dimatikan maka proton yang bergetar tersebut akan kembali ke posisi semula dan
akan menginduksi satu kumparan yang menghasilkan sinyal elektrik yang lemah.
Bila hal ini terjadi berulang-ulang dan sinyal listrik tersebut ditangkap kemudian
diproses dalam komputer akan dapat disusun menjadi suatu gambar. Metode ini dipakai pada tubuh manusia karena mempunyai
konsentrasi atom hidrogen yang tinggi (70%). Untuk menghasilkan sebuah gambar
dari proton dibutuhkan tenaga medan magnet 0,15-0,50 Tesla yang dihasilkan
melalui magnet untuk suatu medan magnet yang rendah 0,25 Tesla dibutuhkan
kumparan yang normal dimana tenagag listrik diubah menjadi panas. Untuk medan
magnet di atas 0,30 Tesla dibutuhkan suatu kumparan khusus kumparan ini ekstrem
tinggi (- 269oC) sehingga tahanannya tidak ada sama sekali. Oleh
karena itu kumparan khusus tersebut tidak memakai listrik (sangat mahal)
Perbedaan MRI dengan konvensional radiolography
dan CT Scan
Konvensional radiolography
: -
superimposed / flat hanya 2 dimensi perlu proyeksi multi, media kontras -
kemampuan membedakan jaringan [imaging contrast] terbatas, ini tergantung
pada: – Perbedaan x-ray attenuation - Kwalitas media { mis : film } - tak
dapat mendeteksi perubahan atenuasi yang kecil, hanya antara udara, fat, soft
tissue, tulang, logam. -
Kebanyakan organ tak bisa dideteksi hanya berdasarkan perbedaan attenuase
(liver dengan lien) sehingga perlu media kontras. CT Scan: - Memakai x-ray - Lebih sensitive menilai perubahan attenuasi yang
minimal. MRI : - Tidak memakai x-ray - Informasi gambar sama dengan CT Scan - Tidak tergantung perubahan attenuasi - Tergantung pada interaksi jaringan dengan kekuatan
elektromagnetik Keuntungan MRI Keuntungan pemeriksaan dengan teknik MRI :
Tidak memakai sinar X
Tidak merusak kesehatan
Banyak pemeriksaan tanpa memerlukan zat kontras
Informasi gambar yang jelas dan menunjukkan parameter biologis
Menghasilkan potongan 3 dimensi (aksial, frontal, sagital) dan
banyak potongan yang dibuat hanya dalam satu waktu (lebih 8 potongan
sekaligus)
Komposisi sebuah pesawat MRI:
Magnet kekuatan antara 0,064 – 1,5 Tesla (T)
Coil, alat pemancar dan penerima RF
Sistem komputer yang canggih.
Tenaga listrik dan sistem pendingin
MR signal ditunjukkan dengan jumlah nucleus yang mengalami
presisi (spin density) pada volume tertentu. Dari segi kekuatan magnet:
high field magnet > 1,5 T
middle field magnet 0,5 – 1,5 T
low field magnet < 0,5 T (1 tesla =
10.000 gauss)
Dari jenis / tipe magnetnya:
superconductive
resistive
permanent
Media kontras MRI : Mempengaruhi waktu relaksasi, memperpendek T1 Dan T2
sehingga signal lebih kuat. Klasifikasi :
Ferromagnetik
Paramagnetic, mis: gadolinium, paling sering dipakai
Superparamagnetic
MRI Safety: Dapat mengenai penderita atau petugas karena faktor-faktor:
medan magnet
noise
gas (helium)
claustrophobia
kontras media
Magnet:
Efek biologik:
- perubahan ringgan ECG (T wave elevation),
temporer - stimulasi langsung pada sel otot dan syaraf
karena induksi aliran listrik : magnetophosphenes - peningkatan ringan suhu badan
Efek non biologik:
- menyangkut benda-benda yang bersifat
ferromagnetic dan elektrikal device, akan mengalami missle effect karena
tarikan megnet - efek pemanasan logam ——— merusak jaringan Noise: Gangguan pendengaran temporer / permanen, diatasi
dengan Headphone /earplug. Gas: Helium sebagai pendingin pada magnet superconductive —— menguap : asfiksi —— kondensasi : frost bite Penggunaan MRI MRI merupakan pemeriksaan rutin di klinik/rumah sakit
besar. Dengan MRI pada prinsipnya hampir semua irgan tubuh dapat diperiksa,
mulai dari kepala sampai kaki terutama untuk pemeriksaan kepala & tulang
bekang yang pada pemeriksaan CT scan tidak dapat dilihat kelainannya. Indikasi:
tumor CNS
penyakit myelum
memperjelas batas antara tumor denga undema otak
membedakan tumor recurrent dengan fibrosis post radiasi
membedakan prolaps discuss recurrent dengan fibrosis post
operasi
cardiac / vascular imaging
Kontra Indikasi : Absolut tidak ada, hampir sama dengan iodium Pada kehamilan (?) Dosis : 0,2 ml / kg BB Efek samping : Rasa panas, nyeri, nausea, dizziness, headche, anaphylactic
dll Persiapan pasien : -
penjelasan tentang cara pemeriksaan (perlu kerja sama yang baik). -
Deteksi ada tidaknya alat/bahan yang ferromagnetic maupun electrical devices (
pacu jantung) -
Penderita diminta kencing dulu -
Bila menggunakan Kontras, puas minimal 2 jam Langkah-langkah pemeriksaan MRI:
penderita diletakkan dalam medan magnet
organ yang akan diperiksa “dibungkus” dengan coil
gelombang RF dihidupkan / dikirim kemudian …..
pulsa RF distop / dimatikan, kemudian …..
signal yang terbentuk direkam untuk …..
dibuat rekontruksi gambar Lain-lain : -
petugas yang masuk ruang dibatasi -
alat-alat penunjang(respirator, tabung oksigen, tracheostomy, collar brace dll,
harus bukan dari logam) -
Wanita hamil trimester I: tidak dapat diperiksa dan tidak boleh masuk ruang
periksa.
PROTEKSI
RADIASI
Tujuan proteksi radiasi : a. Pada pasien : Dosis radiasi harus sekecil mungkin sesuai
keharusan klinis. b. Pada personil : Dosis radiasi yang diterima harus
serendah mungkin dan dalam keadaan bagaimanapun juga tidak boleh melebihi dosis
maksimum yang di perkenankan. Satuan-Satuan Radiasi Rontgen Rontgen adalah satuan pemaparan radiasi yg memberikan
muatan 2,58.10-4 Coulomb per kg udara. Rad Rad adalah satuan dosis serap. 1 rad : radiasi yang diperlukan untuk melepaskan tenega 100
erg dalam 1 gram bahan yang disinar (1 rad = 100 erg/gram) Rad tidak tergantung komponen bahan yang disinar dan tenaga
radiasi, tetapi jumlah rad per R pemaparan berbeda dengan tenaga berkas sinar
dan komposisi bahan serap. Gray (Gy) 1 Gray= 100 rad 1Cgy= 1 rad Rem(Rad Equivalent Man) Rem adalah satuan dosis ekuivalen. Rem = rad x factor kualitas Rem merupakan ukuran efek biologis akibat radiasi. Karena faktor kualitas untuk sinar x dan g = 1, maka
Roentgen = 1 Rad = 1 Rem Karena tenaga yang dilepaskan ke dalam jaringan lunak oleh
1 Rontgen pemaparan hanya 5% lebih besar dari 1 Rad. Sievert (Sv) 1 Sievert (Sv) = 100 rem RBE (relatives biological effectivemen) Perbandingan dosis sinar x 250 K dengan dosis radiasi lain
yang efek biologis sama dengan dosis sinar x 250 K dengan efek biologik
tertentu / dosis radiasi lain dengan efek biologik yang sama. Faktor kualitas berbagai jenis radiasi
Jenis radiasi
Faktor kualitas
Sinar x
Sinar gamma Partikel beta Proton Neutron lambat Neutron cepat Partikel alfa
1
1
1
5
3
10
20
Nilai batas yang diizinkan Untuk perorangan, dosis yang terakumulasi selama jangka
waktu panjang atau hasil penyinaran tunggal yang mengandung kemungkinan
kerusakan sitomatik atau genetik yang dapat diabaikan dan besar dosis ditentukan
pada setiap efek yang sering terjadi terbatas pada akibat yang ringan, sehingga
tidak akan dianggap tidak dapat diterima oleh seseorang yang tersinari dan oleh
instansi yang berwenang dalam bidang medis. Pengendalian tingkatan pemaparan radiasi Cara Pengendalian tingkatan pemaparan radiasi : 1. Jarak : Intensitas radiasi dipengaruhi oleh hukum
kuadrat terbalik sehingga cara ini efektif. 2. Waktu : Pemaparan dapat diatur dengan : - Membatasi waktu generator dihidupkan. - Pembatasan waktu berkas diarahkan ke ruang tertentu. - Pembatasan waktu ruang yang dipakai. 3. Perisai : Digunakan bila ternyata jarak dan waktu tidak
mencukupi, maka dibuat dari timbal atau beton. Jenis perisai : Perisai primer: Memberi proteksi terhadap radiasi primer
(berkas sinar gamna) Contoh: Tempat tabung sinar x dan kaca timbal pada Tabir fluoroskopi Perisai sekunder: Memberi proteksi terhadap radiasi
sekunder (sinar bocor dan hambur) Contoh: Tabir sarat timbal pada tabir fluroskopi, pakaian proteksi, kursi fluoroskopi dan perisai yang dapat dipindah-pindah. Proteksi radiasi a. Pada pasien: 1. Pemeriksaan sinar x hanya atas permintaan seseorang
dokter. 2. Pemakaian filtrasi maksimum pada sinar primer. 3. Pemakaian voltage yang lebih tinggi (bila mungkin)
sehingga daya tembusnya lebih kuat 4. Jarak focus pasien jangan terlalu pendek. Hukum kuadrat terbalik: Intensitas sinar x berbanding
terbalik dengan jarak pangkat dua. Jarak focus kulit pada: - sinar tembus tidak boleh kurang dari 45 cm. - radiografi tidak boleh kurang dari 90 cm 5. Daerah yang disinari harus sekecil mungkin, misalnya
dengan menggunakan konus (untuk radiografi) atau diafragma (untuk sinar
tembus). 6. Waktu penyinaran sesingkat mungkin. Contoh : pemeriksaan sinar tembus tidak boleh melebihi 5
menit pada salah satu bagian tubuh. 7. Alat-alat kelamin dilindungi. 8. Pasien hamil, terutama trisemester pertama tidak boleh
diperiksa radiologik. 9. Peningkatan sistem pertahanan seluler radiasi dengan
antioksidan: Cystein, vitamin E dan vitamin C. b. Pada dokter pemeriksa dan petugas radiologi: 1. Hindari penyinaran bagian-bagian tubuh tidak terlindungi 2. Pemakaian sarung tangan, apron atau gaun pelindung yanqg
berlapis Pb dengan tebal maksimum 0,5 mm Pb. 3. Hindari melakukan sinar tembus, usahakan melakukan radiografi 4. Hindari pemeriksaan sinar tembus tulang-tulang kepala
(head fluoroscopy) 5. Akomodasi mata sebelum melakukan pemekrisaan sinar
tembus paling sedikit selama 20 menit. 6. Gunakan alat-alat pengukur sinar Rontgen. 7. Pemeriksaan pesawat sebelum dipakai. Contoh: Perlindungan terhadap bahaya elektris. Adanya kebocoran pada tabung pesawat. Voltage yang aman dan lamanya. 8. Pemeriksaan rutin terhadap kemungkinan bocor / rusaknya
perlengkapan- perlengkapan pelindung berlapis Pb. Alat-alat yang dipakai untuk mencatat dosis
personil : 1. Film Badge: Mencatat dosis radiasi yang diterima
personil yang terkena berbagai jenis radiasi dan mampu mencatat dosis radiasi
yang berasal dari sumber-sumber radiasi yang berlainan
kualitasnya. 2. Dosimeter Saku: Pengukuran dosis yang mempunyai respon
terhadap radiasi sebanding dengan jumlah pasangan ion yang dihasilkan selama perjalanan melalui elemen pendeteksian selain itu
pengukurannya lebih teliti dari pada film badge. Alat Pengukuran Radiasi Menggunakan Geiger-Muller Survey meter yang bacaannya
berlangsung dalam mR/jam (milli Rontgen per jam) atau count per menit dengan
penggunaannya di radio-diagnostik :
Mengukur laju pemaparan radiasi di tempat-tempat personil
bekerja, dinding luar ruang sinar x, pintu, jendela kaca Pb.
Tata tertip penggunaan untuk proteksi personil Personil dianjurkan memakai film badge terus menerus dan di
ruang pesawat sinar x diagnostik personil: 1. Diharuskan menggunakan perisai dan pakaian proteksi yang
tersedia 2. Tidak boleh memegang pasien selama penyinaran 3. Bila memakai pesawat sinar x dental dan mobil x-Ray unit
(tanpa perisai pelindung) harus berdiri di luar berkas sinar dan sejauh
mungkin dari pasien.
Aplikasi Sinar-X Untuk
Dunia Kedokteran Diposting oleh : Ahmad Hariri Kategori: Radiografi - Dibaca: 338 kali
Radiasi sinar-X merupakan suatu gelombang elektromagnetik dengan
gelombang pendek Gelombang elektromagnetik banyak jenisnya antara lain sinar
lampu, ultra violet, infra merah, gelombang radio, dan TV. Sinar-X mempunyai
daya tembus yang cukup tinggi terhadap bahan yang dilaluinya. Dengan demikian
sinar-X dapat dimanfaatkan sebagai alat diagnosis dan terapi di bidang
kedokteran nuklir. Perangkat sinar-X untuk diagnosis disebut dengan photo
Rontgen sedangkan yang untuk terapi disebut Linec (Linier Accelerator). Dengan
perkembangan teknologi dewasa ini maka photo Rontgen dapat di tingkatkan fungsinya
lebih luas yaitu melalui alat baru yang disebut dengan CT. Scan (Computed
Tomography Scan). Adanya peralatan peralatan yang menggunakan sinar-X maka akan
membantu dalam mendiagnosis dan pengobatan (terapi) suatu penyakit, sehingga
dapat meningkatkan kesehatan masyarakat. Untuk di tingkat daerah peralatan yang
menggunakan sinar-X masih terbatas hanya pada pesawat Rontgen. Karena pesawat
radioterapi membutuhkan catu daya listrik yang cukup besar, pada hal sumber
listrik di daerah relatip masih rendah. Oleh sebab itu pembahasan disini lebih
dititik beratkan pada penggunaan sinar-X untuk pesawat Rontgen. Kata kunci :
sinar-X, Photo Rontgen, CT-scan, Linac. Untuk artikel lengkap silahkan masuk
menu download atau klik disini.
Radiasi sinar-X merupakan suatu gelombang elektromagnetik dengan
gelombang pendek Gelombang elektromagnetik banyak jenisnya antara lain sinar
lampu, ultra violet, infra merah, gelombang radio, dan TV. Sinar-X mempunyai
daya tembus yang cukup tinggi terhadap bahan yang dilaluinya. Dengan demikian
sinar-X dapat dimanfaatkan sebagai alat diagnosis dan terapi di bidang
kedokteran nuklir. Perangkat sinar-X untuk diagnosis disebut dengan photo
Rontgen sedangkan yang untuk terapi disebut Linec (Linier Accelerator). Dengan
perkembangan teknologi dewasa ini maka photo Rontgen dapat di tingkatkan
fungsinya lebih luas yaitu melalui alat baru yang disebut dengan CT. Scan
(Computed Tomography Scan). Adanya peralatan peralatan yang menggunakan sinar-X
maka akan membantu dalam mendiagnosis dan pengobatan (terapi) suatu penyakit,
sehingga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat. Untuk di tingkat daerah
peralatan yang menggunakan sinar-X masih terbatas hanya pada pesawat Rontgen.
Karena pesawat radioterapi membutuhkan catu daya listrik yang cukup besar, pada
hal sumber listrik di daerah relatip masih rendah. Oleh sebab itu pembahasan
disini lebih dititik beratkan pada penggunaan sinar-X untuk pesawat Rontgen.